Gampong Lam Ujong memiliki akar sejarah yang sangat kuat, bermula sejak zaman keemasan Kesultanan Aceh Darussalam. Pada masa itu, wilayah ini bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan kawasan penting yang dihuni oleh para bangsawan dan tokoh berpengaruh kerajaan. Bukti nyata dari masa ini adalah banyaknya sebaran makam kuno atau \"Bhom\" dengan nisan batu Aceh yang memiliki ukiran kaligrafi halus, yang menandakan bahwa Lam Ujong merupakan pusat peradaban dan religiusitas yang mapan sejak abad ke-16.
Memasuki era kemerdekaan Indonesia, tatanan adat gampong mulai disesuaikan dengan sistem administrasi negara. Secara resmi, Gampong Lam Ujong memantapkan status administratifnya pada tahun sembilan belas lima puluh. Tokoh yang tercatat sebagai pemimpin atau Keuchik pertama yang meletakkan fondasi pemerintahan desa di sana adalah Keuchik Amin. Sejak saat itu, gampong ini terus berkembang sebagai bagian dari Mukim Lam Ujong di bawah payung Kabupaten Aceh Besar.
Titik balik paling drastis dalam perjalanan sejarah gampong ini terjadi saat bencana tsunami dua ribu empat silam. Lokasinya yang berada di kawasan pesisir Baitussalam membuat Lam Ujong mengalami kehancuran total. Gelombang besar menyapu bersih rumah-rumah penduduk dan sebagian besar infrastruktur desa, menyisakan duka mendalam bagi warga yang selamat. Namun, tragedi ini juga menjadi awal dari fase pembangunan kembali yang masif. Melalui proses rekonstruksi yang panjang, Lam Ujong lahir kembali dengan tata ruang yang lebih modern dan teratur.
Saat ini, Lam Ujong telah bertransformasi menjadi gampong yang mandiri dan strategis. Letaknya yang berada di jalur utama menuju pusat pendidikan Darussalam dan pusat kota Banda Aceh menjadikannya kawasan pemukiman yang sangat diminati. Meskipun kini telah modern, masyarakatnya tetap menjaga identitas sejarah mereka, termasuk potensi ekonomi tradisional seperti produksi garam kualitas unggul yang sudah ditekuni secara turun-temurun sejak masa lalu.